Di tengah derasnya arus informasi digital dan perkembangan zaman yang bergerak begitu cepat, generasi muda hari ini dituntut bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sadar akan perannya sebagai warga negara. Berangkat dari semangat itulah, MA Ponpes Cipari Garut menyelenggarakan kegiatan “Pendidikan Demokrasi Bagi Pelajar” pada Sabtu, 10 Mei 2026 bertempat di Auditorium Yayasan Pesantren Cipari Garut, bekerja sama dengan H. Aten Munjat, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PPP. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang sangat bermakna bagi para pelajar, khususnya siswa MA Ponpes Cipari, untuk memahami nilai-nilai demokrasi, politik kebangsaan, dan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam kehidupan bernegara.

Kegiatan yang berlangsung penuh antusias tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting di lingkungan pesantren dan madrasah, di antaranya Kepala MA Ponpes Cipari, Ustadz Hilman Arif Salaf, S.Pd.I., Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan Rahman Syah, S.Si., Wakil Kepala Madrasah Bidang Akademik Nasyrul Fu’adz, S.Hum., Pimpinan Pondok sekaligus mewakili Pengurus Yayasan Pesantren Cipari Ustadz Suherlan, S.H.I., serta Zamzam Zomantara selaku Bendahara Yayasan. Kehadiran para tokoh tersebut menjadi simbol kuat bahwa pendidikan demokrasi bukan sekadar materi tambahan, melainkan bagian penting dari pembentukan karakter pelajar yang utuh—berilmu, berakhlak, dan berwawasan kebangsaan.

Dalam sambutannya, Kepala MA Ponpes Cipari, Ustadz Hilman Arif Salaf, menyampaikan bahwa pendidikan demokrasi bagi pelajar menjadi kebutuhan penting di era saat ini. Menurutnya, para siswa bukan hanya calon pemimpin masa depan, tetapi juga warga negara aktif yang harus mulai memahami bagaimana sistem negara bekerja sejak dini. “Hari ini kalian bukan hanya belajar tentang demokrasi, tetapi sedang dipersiapkan menjadi generasi yang kelak mampu menjaga dan merawat demokrasi itu sendiri. Pesantren tidak hanya mencetak santri yang kuat secara spiritual, tetapi juga warga negara yang bertanggung jawab,” ujarnya di hadapan para peserta yang memenuhi ruang kegiatan dengan penuh semangat.

Sebagai pembicara pertama, H. Aten Munjat memaparkan secara lugas mengenai peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dalam sistem pemerintahan Indonesia. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif dan dekat dengan bahasa anak muda, beliau menjelaskan bahwa DPRD bukan sekadar lembaga formal yang jauh dari masyarakat, melainkan representasi suara rakyat yang memiliki tugas legislasi, pengawasan, dan penganggaran. Ia juga mengajak para pelajar untuk memahami bahwa demokrasi tidak berhenti pada proses pemilu lima tahunan, tetapi merupakan budaya yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari keberanian menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, hingga membangun kebiasaan bermusyawarah.

“Anak-anak muda hari ini adalah pemilik masa depan bangsa. Jangan alergi dengan politik, karena politik yang baik adalah alat untuk menghadirkan perubahan yang baik,” pesan H. Aten Munjat yang langsung disambut tepuk tangan para peserta. Ia menekankan bahwa generasi muda harus mampu membedakan mana politik yang bernilai edukatif dan mana yang hanya memecah belah. Dalam konteks era digital, ia juga mengingatkan pentingnya literasi informasi agar pelajar tidak mudah terjebak hoaks politik yang banyak beredar di media sosial.

Sementara itu, sebagai pembicara kedua, Nasyrul Fu’adz, S.Hum., menyampaikan materi yang sangat relevan dengan kehidupan para siswa sebagai pemilih pemula. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa memahami politik dan demokrasi bukan berarti harus langsung terjun ke dunia praktis, tetapi dimulai dari kesadaran sederhana bahwa suara mereka memiliki arti besar bagi masa depan bangsa. Menurutnya, banyak generasi muda yang masih menganggap politik sebagai sesuatu yang rumit, jauh, bahkan menakutkan. Padahal, kata Nasyrul, politik pada dasarnya adalah tentang bagaimana kita bersama-sama menentukan arah kehidupan sosial dan berbangsa.

Dengan gaya bahasa yang santai namun berbobot, Nasyrul mengajak para pelajar untuk mulai peduli terhadap isu-isu publik, belajar berdiskusi secara sehat, serta berani terlibat dalam ruang-ruang pengambilan keputusan, sekecil apa pun itu. “Kalau kalian aktif dalam organisasi sekolah, ikut musyawarah kelas, berani menyampaikan pendapat dengan santun, itu sebenarnya kalian sedang belajar demokrasi,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa menjadi pemilih pemula bukan hanya soal datang ke TPS saat pemilu, tetapi soal memiliki kesadaran kritis dalam memilih berdasarkan gagasan, rekam jejak, dan integritas.

Hal yang menarik dari kegiatan ini adalah bagaimana suasana forum terasa sangat   hidup. Para siswa tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga aktif bertanya dan berdiskusi. Banyak pertanyaan kritis muncul, mulai dari bagaimana menghadapi politik identitas, pentingnya partisipasi anak muda dalam pemilu, hingga bagaimana menjaga idealisme di tengah dinamika politik modern. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya generasi muda memiliki ketertarikan besar terhadap isu demokrasi—asal disampaikan dengan cara yang relevan dan dekat dengan dunia mereka.

Bagi MA Ponpes Cipari, kegiatan ini menjadi bukti bahwa lembaga pendidikan berbasis pesantren mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Pendidikan demokrasi yang diberikan bukan untuk menjadikan siswa pragmatis secara politik, melainkan agar mereka tumbuh menjadi warga negara yang cerdas, kritis, dan tetap berlandaskan nilai-nilai moral keislaman. Inilah wajah pendidikan modern yang sesungguhnya: memadukan ilmu agama, wawasan kebangsaan, dan keterampilan hidup abad ke-21.

Melalui kegiatan ini, para pelajar MA Ponpes Cipari tidak hanya pulang membawa catatan materi, tetapi juga membawa kesadaran baru: bahwa suara mereka penting, bahwa keterlibatan mereka dibutuhkan, dan bahwa masa depan demokrasi Indonesia salah satunya berada di tangan mereka. Di tengah tantangan zaman yang kompleks, harapan itu tumbuh dari ruang-ruang belajar seperti ini—ruang di mana generasi muda diberi kesempatan untuk memahami, bertanya, berpikir, dan akhirnya siap mengambil peran. Karena demokrasi yang sehat selalu dimulai dari warga negara yang sadar, dan hari itu, di MA Ponpes Cipari Garut, benih-benih kesadaran itu sedang ditanam. (NF)

Kontributor: Nasyrul Fuadz